Rusia Investasi ke Telegram, Durov Klaim Kantongi Rp14, 4 T

Dana Investasi Langsung Rusia( RDIF) yang dikendalikan pemerintah mengumumkan sudah bergabung dengan Mubadala Investment Co asal Abu Dhabi buat membeli obligasi dari aplikasi pesan Telegram.

Laporan tersebut dikabarkan oleh perwakilan RDIF, tetapi grupnya enggan mengatakan angka tentu berapa dana yang dikucurkan kepada Telegram.

Berita tersebut pula sudah dikonfirmasi langsung oleh pendiri Telegram, Pavel Durov. Dia berkata grupnya sudah sukses memperoleh kucuran dana US$1 miliyar ataupun Rp14, 4 triliun dari total penjualan obligasi tips smartphone .

” Dengan bahagia hati aku mengumumkan kalau Telegram sudah mengumpulkan lebih dari US$1 miliyar dengan menjual obligasi ke sebagian investor terbanyak serta sangat mempengaruhi di segala dunia,” ucapnya Selasa( 23/ 3).

Lebih lanjut dia menarangkan perihal ini membolehkan Telegram buat melanjutkan perkembangan secara global sembari mempertahankan nilai- nilainya serta senantiasa independen.

Juru bicara Telegram Mike Ravdonikas berkata sedangkan RDIF tidak berpartisipasi dalam penjualan murni. Dana yang dikendalikan negeri itu tampaknya cuma membeli beberapa kecil obligasi Telegram di pasar sekunder.

” Mengingat hak pemegang obligasi terbatas serta obligasi tidak membagikan kekuatan buat pengaruhi nilai ataupun strategi industri, kami tidak menyangka transaksi obligasi Telegram di pasar sekunder selaku permasalahan,” ucap Ravdonikas semacam dilansir Bloomberg.

Tadinya Mubadala serta sebagian industri Angkatan udara(AU) Dhabi yang mempunyai saham mengumumkan sudah melaksanakan investasi senilai US$75 juta ataupun senilai lebih dari Rp10 miliyar ke Telegram.

Bca Juga : Sepeda – Latihan Utama

Aplikasi besutan Pavel Durov ini ialah media sosial yang pernah dilarang beroperasi di Rusia dari 2018 sampai Juni 2020 kemudian. Perihal itu dicoba usai Telegram menolak buat membagikan kunci enkripsi kepada penegak hukum buat membaca pesan pengguna.

Sepanjang 2 tahun, industri menggagalkan upaya buat menegakkan larangan tersebut, tercantum mengganti IP adress buat menjauhi pemblokiran, sampai kesimpulannya Rusia kembali membuka akses Telegram di negaranya pada Juni kemudian, semacam dilansir livemint.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *